Permasalahandan Perlindungan Daerah Pantai. Erosi Pantai/Abrasi, dapat merusak kawasan permukiman, objek wisata bila ada dan prasarana kota yang berupa mundurnya garis pantai. Erosi pantai dapat terjadi secara alami oleh serangan gelombang atau oleh kegiatan manusia yang menebang hutan bakau, pengambilan karang, pembangunan lain di daerah pantai.
JudulSkripsi : Arahan Pemanfaatan Lahan Daerah Aliran Sungai (DAS ) Jeneberang Terhadap Jarak Sempadan Sungai di Kelurahan Pangkabinanga Kabupaten Gowa. Pembimbing : 1. Henny Haerany G, S.T., M.T. 2. Dr. Muhammad Anshar, S.Pt., M.Si. Skripsi ini adalah Studi tentang Arahan Pemanfaatan Lahan Daerah Aliran Sungai
Kendala(hambatan) yang dihadapi dalam pemanfaatan lahan potensial di daerah pantai untuk usaha pertambakan udang adalah adanya pasang surut yang perbedaannya cukup besar. Cara mengatasinya dengan membuat sistem saluran yang dilengkapi dengan pintu air, untuk mengatur pergantian air agar pH (tingakat keasaman) nya tetap.
PETANI- Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beribu-ribu pulau sehingga memiliki pantai yang sangat luas. Indonesia memiliki panjang garis pantai mencapai 106.000 km dengan potensi luas lahan 1.060.000 ha, secara umum termasuk lahan marginal.
Meskiterletak di pinggiran Pantai Marina Semarang, di tempat ini tumbuh subur aneka tanaman buah dan sayuran organik. Lokasi Agro Eduwisata Raja Tani berada di Grand Marina Blok 2, Semarang Barat. Tidak jauh dari Pantai Marina. Pertanian di tengah kota (urban farming) ini kurang lebih seluas lima hektare. Lahannya dipetak-petak.
Tanamanpun tidak bisa hidup tanpa adanya lahan pertanian ini. Menggarap lahan pertanian juga tidak semudah yang dibayangkan, Anda harus mengolah tanah terlebih dahulu agar tumbuhan yang ditanam dapat tumbuh subur dan memberikan hasil panen melimpah. Berikut lima cara pengolahan tanah untuk lahan pertanian yang sering dilakukan oleh petani di
. Lahan pesisir sesuai dengan ciricirinya adalah sebagai tanah pasiran, dimana dapatdikategorikan tanah regosal. Menurut Darmawijaya 1992, tanah regosal di sepanjang pantai di beberapa tempat, diantaranya Cilacap, Parangtritis, adalah berupa bukit – bukit pasir terbentuk dari pasir–pasir pantai berasal dari abu vulkanik oleh gaya angin yang bersifat deflasi dan akumulasi. Figures - uploaded by Amar Ma'rufAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Amar Ma'rufContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1 Review KARAKTERISTIK LAHAN PESISIR DAN PENGELOLAANNYA UNTUK PERTANIAN Oleh Amar Ma’ruf Universitas Asahan KARAKTERISTIK LAHAN PESISIR Lahan pesisir sesuai dengan ciricirinya adalah sebagai tanah pasiran, dimana dapat dikategorikan tanah regosal. Menurut Darmawijaya 1992, tanah regosal di sepanjang pantai di beberapa tempat, diantaranya Cilacap, Parangtritis, adalah berupa bukit – bukit pasir terbentuk dari pasir – pasir pantai berasal dari abu vulkanik oleh gaya angin yang bersifat deflasi dan akumulasi. Tanah ini mempunyai ciri – ciri diantaranya - bertekstur kasar - mudah diolah - gaya menahan air rendah - permeabilitas baik - makin tua teksturnya makin halus dan permeabilitas makin kurang baik Selanjutnya, menurut Sukresno 2000, tanah wilayah pantai berpasir - Tanah wilayah pantai berpasir bertekstur kasar, lepas-lepas dan terbuka menjadi sangat peka terhadap erosi angin. - Hasil erosi angin berupa pengendapan material pasir menganggu dan menutup wilayah budidaya dan pemukiman. - Butiran material pasir beragam yang terangkut oleh proses erosi pasir menyebabkan kerusakan tanaman budidaya serta mempercepat korosi barang-barang logam. Tanah regosal umumnya mempunyai susunan hara tanaman cukup P dan K yang masih segar dan belum siap diserap oleh akar tanaman, serta kekurangan unsur N. Hasil penelitian Sutikno 1998 sifat fisik tanah pasiran di Samas Yogyakarta, yaitu bertekstur pasir, struktur lepas, kandungan bahan organik rendah dan pH 5,5 – 6,5 ukuran butiran rentan terhadap erosi. Hasil penelitian sifat fisik dan kimia tanah lahan pasiran di daerah Karangwuni, Wates, Kulon Progo dapat diutarakan sebagai berikut2 kelas tekstur pasir, berat volume 1,46 – 1,50, parositas 44,03 – 44,91 %, permeabilitas sangat cepat, bahan organik 1,34 – 1,37 %, N total 0,07 – 0,11 %, P tersedia 42,65 – 50,32 ppm, K tersedia 0,19 – 0, 23 me/100 gram dan pH 5,91 – 6,13. Dengan demikian tanah lahan pesisir mempunyai sifat kemarginalan terhadap tekstur tanah, kemampuan menahan air, kandungan kimia dan bahan organik tanah. Namun di lahan kawasan pesisir selatan Yogyakarta menampilkan ketersedian air tanah yang cukup memadai, sehingga kedalaman air sumur mencapai tujuh meter dari permukaan tanah. Hal ini merupakan nilai tambah kondisi kawasan lahan berpasir. Disamping sistem tanah lahan kawasan pesisir yang mempunyai sifat marginal dan nilai tambah yang rendah, dan juga dari sistem atmosfernya. Di lahan pesisir mempunyai ciri 2 kecepatan angin yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan tenaganya sebagai tenaga mekanis untuk menaikkan air sumur melalui kincir angin. Kandungan material udara banyak mengandung material pasir dan bahan kimia dari laut yang kurang menguntungkan bagi kehidupan tanaman. PENGELOLAAN LAHAN Beberapa bentuk perbaikan lahan kawasan pesisir 1. Teknologi perbaikan sifat fisik – kimia dan organisme tanah. Tujuan perbaikan ini adalah agar tanah pasiran dapat. a. Terbentuk agregat, tidak lepas-lepas, mampu menahan air baik yang hilang berupa perlokasi atau evaporasi. b. Mampu menyediakan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman c. Terwujudnya kekayaan mikro tanah yang dapat membantu kesuburan kimiawi dan fisika tanah. 2. Teknologi peningkatan hubungan tanah dan atmosfir Budidaya tanaman pada umumnya diharapkan hasilnya berupa daun, biji, batang, bunga, kulit dan umbi. Masing-masing produk akan sangat tergantung fotosintesis yang memberi energi utama adalah energi matahari dari 0,4 µ - 0,7 µ. Masing-masing gelombang elektromagnetik akan sangat berpengaruh terhadap hasil fotosintesa. Maka diperlukan teknologi yang mampu menghasilkan produksi biomas seperti yang diharapkan. Kawasan pesisir bercirikan kecepatan angin yang cukup cepat, maka perlu teknologi pengendali energi angin dan pemanfaatan energi angin. Udara di lahan pantai mengandung anasir yang merugikan kehidupan tanaman maka diperlukan teknologi yang mampu mengurangi kerusakan tanaman akibat bencana angin dan udara. Dengan kata lain perlu Teknologi Atmosfiriq tanaman yang mendatangkan hasil guna dari ekosistem pertanian. Untuk mengantisipasi permasalahan dilahan pasir tersebut diperlukanupaya perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Perbaikan yang dapat dilakukan antara lain 1. Penggunaan Mulsa Penggunaan mulsa pada permukaan tanah bertujuan untuk mengurangi kehilangan air dari tanah. Mulsa permukaan tanah dapat menggunakan lembaran plastik, jerami padi atau sisa-sisa tanaman lainnya. Pemasangan mulsa plastik di lahan pasir pantai berbeda dari pemasangan mulsa di lahan sawah. Pemasangan mulsa di lahan pasir dengan bentuk cekung ditengah. Bentuk cekung bertujuan agar air hujan atau penyiraman masuk ke dalam tanah. Penggunaan mulsa ini sangat penting dilahan pantai karena dapat menghemat lengas tanah sehngga kebutuhan lengas untuk tanaman terutama pada musim kemarau diharapkan dapat tercukupi. Dari hasil penelitian pemberian mulsa glerecidea dan jerami padi sebanyak 20-30 ton dapat meningkatkan hasil pada tanaman jagung di lahan pantai, selain itu pemberian mulsa berupa pangkasan tanaman ternyata juga lebih efektif sebagai mulsa dibadingkan dengan pemerian pupuk hijau Putri, 2011. 3 Gambar 1. Penggunaan Mulsa di Lahan Pasir Pantai Pengaruh mulsa organik terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas kacang hijau Vigna radiata l. Wilczek di lahan pasir pantai bugel, kulon progo. Varietas Vima-1 dan Murai memiliki respons yang lebih baik dibanding varietas Lokal Wonosari pada penanaman di lahan pasir. Kacang hijau Vima-1 dan Murai mampu merespon penggunaan mulsa organik di lahan pasir pantai, dengan selisih hasil masing-masing 0,51 ton/ha dan 0,45 ton/ha dibanding tanpa mulsa. Kacang hijau Lokal Wonosari kurang merespon penggunaan mulsa organik, dengan selisih hasil sebesar 0,12 ton/ha dibanding tanpa mulsa. 2. Pemberian bahan organik Bahan organik yang dapat diberikan di lahan pasir pantai dapat berupa pupuk kandang sapi, kambing/domba dan unggas, kompos, pupuk hijau, dan blotong. Pemberin bahan organik dapat dilakukan dengan cara mencampur bahan organik ke dalam tanah atau pemberian baan organik di permukaan tanah di sekitar tanaman. Bahan organik dapat diberikan ke lahan dalam kondisi sudah matang atau mentah. Pemberian bahan organik dalam kondisi mentah bertujuan untuk mengurangi pelindian, sehingga dekomposisi bahan organik mentah akan terjadi sinkronisasi pelepasan hara dengan kebutuhan hara bagi tanaman. Kebutuhan bahan organik pada lahan pasiran lebih banyak dari lahan konvensional yaitu sekitar 15 – 20 ton. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang sebanyak 20 ton dapat menekan penggunaan NPK menjadi 200 kg/ ha Putri, 2011. 4 3. Penggunaan bahan-bahan halus Penggunaan bahan halus di lahan pasir pantai dapat memanfaatkan tanah lempung, abu vulkan, endapan saluran sungai, kolam waduk. Penggunaan bahan halus bertujuan untuk meningkatkan jumlah koloid dalam tanah, khususnya penambahan fraksi lempung. Peningkatan jumlah bahan halus dalam tanah akan bermanfaat terhadap peningkatan hara dan air. Gambar 2. Pemberian lumpur di lahan pasir pantai 4. Penggunaan Lapisan Kedap Penggunaan lapisan kedap bertujuan untuk menghalagi infiltrasi air, sehingga air lebih lama tertahan dalam tanah pasir pantai. Laspisan kedap dapat memanfaatkan lembaran plastic, aspal, bitumen, lempung, pemampatan, semen. Lapisan kedap dibuat dengan cara menggali tanah terlebih dahulu kemudian lapisan dihamparkan, selanjutnya diatas lapisan kedapt diberi tanah. 5. Penggunaan Pemecah Angin Penggunaan pemecah angina bertujuan untuk mengurangi kecepatan angin dalam pertanaman lahan pasir. Pemecah angina dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu pemecah angin sementara dan permanent. Pemecah angin sementara dapat memanfaatkan anyaman daun tebu atau kelapa, kasa nilon dan lembaran plastic. Sedangkan pemecah angin permanent dapat memanfaatkan tanaman yang berupa tumbuhan tahunan yang umurnya panjang dan dapat diatur pertumbuhannya. Jenis tumbuhan yang dapat digunakan, misalnya kelapa, Accasia, Glerecidae, sengon, lamtoro, bunga turi, cemara laut dan pandan. Bangunan sementara dapat dibuat dari anyaman bambu, daun tebu, atau daun kelapa. Sementara itu, pematah angin yang bersifat tetap berasal dari tumbuhan tahunan yang umurnya panjang dan dapat diatur pertumbuhannya. Jenis tumbuhan yang dapat digunakan, misalnya kelapa, Accasia, Glerecidae, sengon, lamtoro, bunga turi dan lain-lain. 6. Penggunaan Pembenah Tanah Bahan pembenah tanah alami adalah emulsi aspal, lateks, skim lateks, kapur pertanian, batuan fosfat alam, blotong, dan zeolit Dariah, 2007, tanah lempung Grumusol dan Latosol Kertonegoro, 2000, lumpur sungai dan limbah karbit Rajiman, 2010. Tujuan penggunaan bahan pembenah tanah adalah a. Memperbaiki agregat tanah, b. Meningkatkan kapasitas tanah menahan air water holding capacity, c. Meningkatkan kapasitas pertukaran 5 kation KPK tanah dan d. Memperbaiki ketersediaan unsur hara tertentu. Pemanfaatan pembenah tanah harus memprioritaskan pada bahan-bahan yang murah, bersifat insitu, dan terbarukan. Pada kesempatan ini, pembenah tanah yang akan dibicarakan banyak menyangkut bahan alami. Pembenah tanah secara alami dapat diambil dari lingkungan sekitar lahan atau dari daerah lain. Pembenah tanah yang biasa digunakan di lahan pasir pantai berupa bahan berlempung dan atau bahan organik. 7. Penggunaan sistem lorong Alternatif lain dalam teknologi budidaya yang dapat diterapkan untuk lahan pantai adalah sistem penanaman lorong alley cropping. Sistem penanaman lorong merupakan sistem penanaman dengan menanam pohon-pohon kecil dan semak dalam jalur-jalur yang agak lebar dan penanaman tanaman semusim di antara jalur-jalur tersebut sehingga membentuk lorong-lorong. Tanaman lorong biasanya merupakan tanaman pupuk hijau atau legume tree. Di lahan pantai, budidaya lorong diterapkan untuk mengatasi berbagai permasalahan seperti intensitas matahari, erosi permukaan oleh angin, dan laju evapotranspirasi. Selain itu, dapat juga berfungsi sebagai pematah angin sehingga mereduksi kecepatannya. 8. Hidrologi dan Irigasi Ketersediaan air irigasi di lahan pantai yang terbatas mengakibatkan perlunya upaya untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air irigasi sehingga dapat mengurangi pemborosan dalam penggunaan air irigasi. Irigasi dilahan pantai selama ini dilakukan dengan cara penyiraman dan penggunaan sumur renteng . Sedangkan untuk mengurangi kehilangan air siraman dan mempertahankan lengas, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan lembaran plastik yang ditanam pada jeluk 30 cm. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan suatu lapisan kedap guna mencegah atau menghambat agar air irigasi yang diberikan dapat ditahan oleh lapisan tersebut sehingga efisiensi pemanfaatan air oleh tanaman dapat ditingkatkan. Dalam pengelolaan lahan pantai selain harus menggunakan berbagai teknologi untuk memanipulasi lahan, kita juga harus memperhatikan pula kelestarian lingkungan di lahan pantai, hal ini dilakukan terutama terhadap sumber daya air tawar yang sangat penting bagi pertanian lahan pantai. Jangan sampai menggunakan air tanah secara berlebihan karena dapat menyebabkan intrusi air laut ke daratan, untuk itu manajemen untuk mempertahankan kelengasan sangat penting terutama dalah hal untuk mengawetkan keberadaan sumber air tawar di pantai. Selain itu dalam pelaksanaan pertanian lahan pantai harus pula memperhatikan kehidupan sosial para warganya, jangan sampai cara-cara budidaya yang ada bertentangan dengan adat istiadat warga sekitarnya Putri, 2011. 6 Gambar 3. Penggunaan sumur renteng untuk irigasi Gambar 4. Penggunaan pompa air dan selang untuk pemenuhan air. BEBERAPA KOMODITAS PADA LAHAN PASIR PANTAI Buah naga 1. Pemanfaatan Lahan Pasir Pantai Untuk Budidaya Buah Naga Misal pada penelitian di pantai selatan. Lahan pasir pantai selatan mengandung pasir >95%, mempunyai struktur kasar, konsistensi lepas, kurang baik menahan air, permeabilitas dan drainase sangat cepat miskin kandungan hara. Oleh karena itu, penanaman buah naga di lahan pasir pantai harus ditambah tanah lempung dan pupuk kandang dengan perbandingan 11. 2. Cara Membudidayakan Buah Naga di Lahan Pasir Pantai Kriteria bibit yang baik harus berwarna hijau kebiruan atau hijau gelap, penampilan fisik kekar dan keras, serta tampak tua. Ukuran batang 50-80 cm dengan diameter batang 8 cm. Penanaman tiap-tiap beton sebanyak 4 bibit. Pemeliharaan setelah seminggu penanaman yaitu tanaman yang mati, busuk pada pangkal batang, tidak tumbuh atau kerusakan fisik lainnya harus segera diganti dengan setek yang baru. Pemangkasan tanaman bertujuan untuk memperoleh keseimbangan pertumbuhan dan dilakukan sedini mungkin supaya tanaman menjadi lebih teratur. Pengairan buah naga di lahan pasir pantai jangan terlalu kering harus 7 segera disiram dan penyiraman jangan terlalu banyak karena kalau terendam akan terserang busuk batang. Pemupukan buah naga perlu dilakukan sebagai penyimpan air, menjaga kelembaban tanah, penghemat air penyiraman. Komposisi pupuk yang digunakan dalam budidaya buah naga adalah pupuk organik dan anorganik. Buah naga yang siap panen umunya merupakan buah yang sudah tua, kulit berwarna merah tua mengkilap. Pasca panen batang bekas buah dipotong untuk merangsang pertumbuhan tunas baru. Pemasaran buah naga untuk saat ini di pasarkan oleh petani langsung ke swalayan dan toko buah-buahan segar atau pedagang langsung menemui petani. Manfaat budidaya buah naga bisa dijadikan sebagai tanaman obat, menambah pendapatan petani, pemasukan devisa daerah dan sebagai wisata pertanian agrowisata. Bawang merah di Pantai Samas, Yogyakarta Sistem penanaman menggunakan sistem bedengan. Ukuran bedengan 1 meter x 6 meter dengan tinggi 30 cm. Pertama diawali dengan olah tanah menggunakan cangkul kemudian tanah diratakan menggunakan alat serok. Setelah rata, permukaan tanah ditaburi oleh pupuk organik sebanyak 5 kg per bedeng dan tanah siap ditanami bawang. Jarak tanam benih 20-25 cm dengan cara dilubangi terlebih dahulu menggunakan jari, lalu benih bawang merah dimasukkan ke dalam lubang dengan posisi akar di bawah. Tanpa menutup lubangnya, bedengan yang sudah ditanami bawang merah langsung disiram atau dilembabkan. Sistem pengairannya pun ada dua, yaitu dengan penyiraman langsung, dan menggunakan sistem aliran diantara tiap-tiap bedengan. Biasanya, petani juga menanam timun atau tanaman-tanaman lain secara bersamaan di sela-sela tanaman bawang merah tersebut tumpang sari. Pembuatan pupuk organik yang digunakan cukup mudah. Pertama, pembuatan mikroba yang terdiri dari lemen 1 ekor sapi, tetes tebu 5 liter, kapur 5 sdm, terasi 200 gr, ragi 200 gr dan kemudian disimpan di tong tertutup selama 20 hari. Setelah mikroba jadi, kotoran sapi, sekam, dan kapur dengan perbandingan komposisi 602020 dicampur dengan mikroba kemudian ditutup selama 15 hari. Nantinya, pupuk organik ini akan memicu gulma untuk tumbuh. Namun, gulma yang tumbuh tidak terlalu banyak sehingga tidak dilakukan perlakuan khusus untuk mengendalikan gulma tersebut. Budidaya sayuran Sayuran daun bagian yang dipanen merupakan bagian vegetative. Nutrisi utama sayuran daun adalah nitrogen, dapat disuplai melalui pemberian pupuk urea. Perlu dilakukan penelitian mengenai dosis dan frekuensi pemupukan N yang tepat, untuk meningkatkan efisiensi pemupukan. Harus diperhatikan dalam pemupukan N. Tanaman Kelebihan N, daun berwarna hijau tua gelap, penampilan kurang menarik, mudah rusak kualitas cepat menurun, nilai jual rendah. Tanaman kekurangan N, daun kekuningan, kandungan gizi rendah, penampilan kurang menarik, nilai jual rendah. Efisiensi pemupukan rendah banyak nutrisi yang terbuang. Penelitian yang telah Dilakukan, Takaran Urea 40 kg/ha U4, 80 kg/ha U8, 120 kg/ha U12, dan 160 kg/ha U16. Frekuensi pemupukan urea 100% saat tanam F1, 50% saat tanam+50% 14 hst F2, 1/3 saat tanam+1/3 11hst+1/3 21hst F3, ¼ saat tanam+1/4 7hst+1/4 14hst+1/4 21hst F4. Takaran sebesar 120 kg/ha dan 160 kg/ha memberikan nilai tertinggi pada semua variabel yang diamati. Frekuensi pemupukan urea 3 dan 4 kali selama satu siklus hidup tanaman sayuran daun memberikan nilai tertinggi pada 8 semua variabel yang diamati. sumber Eka Tarwaca Susila. P. Pengembangan centra produksi sayuran dan buah di lahan pantai melalui hidroponik PUSTAKA Putri, Fiadini. 2011. Bertani di Lahan Pasir Pantai. BBPP Lembang. Anonim., 2002 Aplikasi Unit Percontohan Agribisnis Terpadu di Lahan Pasirpinsi daerah istimewa Yogyakarta. Pantai. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi DIY dengan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. 118h. Al-Omran, Falatah, Sheta and 2004. Clay Deposits for Water Management of Sandy Soils. Arid Land Research and Management 1 171-183. Bulmer, and D. G. Simpson. 2005. Soil Compaction and Water Content as Factors Affecting the Growth of Lodgapole Pine Seedling on Sandy Clay Loam Soil. Can J. Soil Sci. 85 667-679. Dariah A. 2007. Bahan Pembenah Tanah Prospek dan Kendala Pemanfaatannya. Sinar Tani edisi 16 Mei Kertonegoro, B. D. 2001. Gumuk Pasir Pantai Di Yogyakarta Potensi dan Pemanfaatannya untuk Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Untuk Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Universitas Wangsa Manggala pada tanggal 02 Oktober 2001. h46-54. Ma’ruf, A. 2017. Agropastura Dan Pelestarian Kearifan Lokal Untuk Keberlanjutan Pertanian Di Asahan. Bernas Ma’ruf, A. Sinaga, A. 2016. Pengaruh Pemanasan Global Terhadap Beberapa Tanaman C3 Di Indonesia. Bernas Ma’ruf, A. Putra, Waluyo, S. 2016. Pengaruh Pyraclostrobin Terhadap Aktivitas Fisiologis, Produktivitas, Dan Kualitas Pucuk Teh Assamica camellia Sinensis Var. Assamica mast. Kitamura Pada Musim Kemarau. Universitas Gadjah Mada Ma’ruf, A. Mardu, R. Andayani, N. 2014. Respon Bibit Mucuna bracteata Terhadap Intensitas Sinar Matahari. Institut Pertanian Stiper Yogyakarta Ma’ruf, A. Zulia, C. Safruddin. 2017. Rice Estate Development As State Owned Enterprises SOEs To Self Supporting For Food. European Academic Research Ma’ruf, A. 2016. Respon Beberapa Kultivar Tanaman Pangan Terhadap Salinitas. Bernas Ma’ruf, A. Zulia, C. Safruddin. 2017. Legume Cover Crop di Perkebunan Kelapa Sawit. Forum Pertanian Asahan Ma'ruf, A. 2017. AGROSILVOPASTURA SEBAGAI SISTEM PERTANIAN TERENCANA MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN. Bernas, 131, 81-90. Ma’ruf, Amar., Putra, E. T. S., & Waluyo, S. EFFECT OF PYRACLOSTROBIN CONCENTRATION ON QUALITY SHOOTS OF ASSAMICA TEA. Ma’ruf, A. Penggunaan Legume Cover Crop LCC di Perkebunan Kelapa Sawit. Sinaga, A. Ma’ruf, A. 2016. Tanggapan Hasil Pertumbuhan Tanaman Jagung Akibat Pemberian Pupuk Urea, SP-36, dan KCl. Bernas 9 Oliver, and 2002. Predicting Water Balance in a Sandy Soil Model Sensitivity to the Variability of Measured Saturated and Near Saturated Hydraulic Properties. Australian of Soil Research 43 1 87-96. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1994. Survei Tanah Detail di Sebagian Wilayah Yogyakarta skala 1 Proyek LREP II Part C. Puslittanak. Bogor. Rajiman., 2010. Pemanfaatan Bahan Pembenah Tanah Lokal dalam Upaya Peningkatan Produksi Benih bawang Merah di Lahan Pasir Pantai Kulon Progo. Disertasi. Program Pascasarjana UGM. Syukur, A. 2005. Pengaruh Pemberian Bahan Organik Terhadap Sifat-Sifat Tanah dan Pertumbuhan Caisin di Tanah Pasir Pantai. J. Ilmu Tanah dan Lingkungan 5 1 30-38. Walter A, Silk, and U. Schur. 2000. Effect of soil pH on Growth and Cation Deposition in the Root Tip of Zea mays L. Plant growth Regul 19 1 65-76 Wiyanto, G. Ma’ruf, A. Puspaningrum, E, S. Panen Rupiah dari Ladang Jahe. 2014. Bhafana Publishing ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Sinaga Amar Ma'rufPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan tanaman jagung setelah pemberian pupuk Urea, SP-36 dan KCl. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2015 di rumah kaca dan Laboratorium Ilmu Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap RAL dengan kombinasi pemupukan yang terdiri atas kontrol tidak dipupuk, tanpa N PK, tanpa P NK, tanpa K NP, dan lengkap NPK. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pengamatan tanaman dilakukan pada umur 8 mst yang meliputi tinggi tanaman, klorofil, panjang akar, luas akar, volume akar, berat kering akar dan bobot kering total tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk Urea N dan Kalium K2O5 dapat meningkatkan panjang akar dan luas akar jagung sebesar 152, 32 % dan 116,12% terhadap tanaman tanpa diberi pupuk kontrol. Tinggi tanaman meningkat sebesar 6,43% setelah diberi pupuk NK terhadap tanaman kontrol. Amar Ma'rufRice has become the main staple food in Indonesia. In spite of a program for the diversification of food, demand for rice remains difficult unstoppable. The possibility of imports may continue to occur. That's why programs need to increase rice production to achieve food security without imports. The increase in domestic rice production outline is done in two ways. First, the intensification of improving farming technologies, the extension is to expand agricultural land to increase production. For the creation of food security in a sustainable manner, the need for a special state that manages the cultivation of rice at a time to be partnering with rice farmers in Indonesia. Of course, the establishment of SOEs managers also oriented to the welfare of rice farmers. Therefore, affiliated with the ministry of agriculture as a key. SOEs could be soulution to the domestic demand for rice quota fulfilled even surplus, open a lot of jobs and spur the development of new technologies in the agricultural sector, have an enormous contribution to the clarification groove rice marketing. It took long-term strategy to build a broad-scale rice plantation under the management of SOEs. Provision of land and water resources so the strategy is essential. Amar Ma'rufCik ZuliaAlhamdulillaahirobbil alamin, penyusun sampaikan sebagai rasa syukur kami karena buku ini telah terbit dan menjadi bahan bacaan yang mudah-mudahan memberi banyak manfaat. Baik bagi para akademisi, instansi, profesional, dan masyarakat umum. Legume cover crop merupakan salah satu komponen penting di perkebunan kelapa sawit. Maka, pengetahuan mengenai legume cover crop juga mesti disediakan. Mengingat memang belum begitu banyak rangkuman khusus yang membahasa mengenai Legume Cover Crop di Perkebunan Kelapa Sawit. Buku ini disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu dan up to date mengenai LCC yang umumnya digunakan di perkebunan kelapa sawit, yaitu Mucuna bracteata, Calopogonium muconoides, Centrocema pubescens, Calopogonium caeruleum, dan Puearia javanica. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Baik untuk panduan budidaya LCC, maupun bahan masukan untuk menulis karya ilmiah. Kami juga sangat berterima kasih kepada para peneliti LCC, terutama yang hasil-hasil penelitiannya kami rangkum dalam buku ini. Chuck BulmerD. G. SimpsonThe response of lodgepole pine Pinus contorta Dougl. var. latifolia Engelman. seedlings to three levels of soil compaction and water content was evaluated in raised beds filled with a sandy clay loam soil. In compacted soils, seedling survival, height, root collar diameter and root growth were reduced. Soil water regime was adjusted with irrigation to levels associated with plant moisture stress near wilting point and limiting soil aeration near m3 m-3 air-filled porosity. Soil water regime affected seedling performance, with higher survival, root collar diameter and root growth observed on treatments with higher water content. Compaction had detrimental effects on growth at all levels of soil water availability. Compaction and water content had strong effects on soil mechanical resistance. Limitations to seedling growth and survival were at least partly explained through their relationships with soil water content and soil mechanical resistance, and combinations of these factors as described by the least limiting water range management practices in conserving water for arid lands are crucial in sustaining agriculture and food production. Sandy soils Typic Torrripsamments are practically important land resources in many Middle Eastern countries. In a laboratory experiment, five naturally occurring clay deposits were applied at different rates to sandy calcareous soil in order to evaluate their effect on relative swelling, infiltration and water conservation. Relative swelling index RSI, cumulative infiltration D, and advance of wetting front Z were measured in the laboratory for untreated and treated soil samples mixed with 1, 2, 3, and 5% of the clay deposits. Results indicated that addition of natural deposits significantly increased RSI. The differences in RSI values between natural deposits at any rate of application were significant and related to clay content and presence of smectite type clay. RSI values for each clay deposit fitted to the following exponential function with the application rate x RSI = aebx. Results of D indicated that increasing natural deposit rate significantly increased the time required for the wetting front to reach 40 cm. There was a significant difference between the clay deposits at 5% rate and the difference was related to the type of clay and clay content in each deposit. The presence of CaCO3, dominance of kaolinite type clay and low clay content in the deposits enhanced water movement while dominance of smectite clay and high clay content decreased D. Advance of wetting front was markedly affected by the type and the rates of clay deposit applied. Z decreased with increasing rates of clay deposits. Soil water distribution profile was characterized by three zones based on the type and the rate of applied clay deposit to the balance modelling based on Richards' equation requires accurate description of the soils' hydraulic parameters. Unfortunately, these parameters vary spatially and temporally as well as between measurement techniques. For most field modelling exercises, the hydraulic parameters are obtained from a small number of measurements or predicted from soil properties using pedo-transfer functions. The effect of different measurement techniques on the description of soil hydraulic parameters has been the subject of many studies but the effect of the variability of the hydraulic parameters on the predicted water balance has not been widely investigated. In this study we compared the hydraulic parameters obtained solely from laboratory measurements with those obtained from a rapid wet end field measurement technique, augmented by dry end laboratory data. The water balance was modelled using the laboratory and field hydraulic parameter sets and compared to field water contents measured by time domain reflectometry TDR. In a sandy soil, we found the total profile water content to be well modelled by both hydraulic parameter datasets, but the water content at a specific depth was less well predicted using either of the measured parameter sets. The water content at a specific depth was under-predicted prior to the rainfall event and over-predicted after the rainfall, regardless of whether the hydraulic parameters were obtained from laboratory or field measurements. Generally, the hydraulic parameters that were obtained from the field measurements gave a closer fit to the measured TDR water contents. The sensitivity of the modelled water balance to changes in the hydraulic parameters within the observed range of parameter values was also investigated. Parameter percentage coefficient of variation within measurement techniques ranged from 60% for air entry, he; 19% for residual water content, θr; 5% for slope of the water retention curve, n; and 7% for saturated water content, θs. The percentage differences between the parameters obtained from the laboratory and field measurement techniques for the topsoil and subsoil respectively were 47% and 50% for he, 100% for θr, 28% and 40% for n, and and for θs. Modelling water content changes at a particular depth in the sandy soil was found to be most influenced by variations in θs, and n. Predicted water contents were also affected by the θr but less influenced by the saturated hydraulic conductivity, Ks. The he was the least influential parameter but also the most variable. This suggests that measurement of θs, related to bulk density changes caused by tillage, wheel compaction, and consolidation, is required for water balance studies. Generally, n had small variability between measurements at a particular depth, which is promising for the use of pedo-transfer functions related to soil The effects of sandy soil pH on the distribution of growth velocities and on cation concentrations and deposition rates in root growth zones of Zea mays L. seedlings were investigated. The pH values of the rooting medium varied between and in sand culture 70% saturated without external supply of nutrients. At all pH values, densities in &55moles per g fresh weight of potassium, magnesium, and calcium increased toward the root tip. Lower pH in the medium increased calcium tissue density fivefold and magnesium density whereas the density of potassium, the overall elongation rate, and the growth velocity distribution did not show any significant pH dependence. Throughout the growth zone the deposition rates of the divalent cations, as calculated on the basis of the continuity equation, increased with lower pH. The data are consistent with the hypothesis that the effects of pH on the cation deposition rates are due to the increase in the divalent cation concentration of the soil solution at low pH and that the abundant uronic acid residues of the young walls of the meristem provide a reservoir of storage capacity for Ca and Mg under conditions of low nutrient Eka Tarwaca Susila. P. Pengembangan centra produksi sayuran dan buah di lahan pantai melalui hidroponik PUSTAKAYang Diamativariabel yang diamati. sumber Eka Tarwaca Susila. P. Pengembangan centra produksi sayuran dan buah di lahan pantai melalui hidroponik PUSTAKABertani di Lahan Pasir PantaiFiadini PutriPutri, Fiadini. 2011. Bertani di Lahan Pasir Pantai. BBPP Unit Percontohan Agribisnis Terpadu di Lahan Pasirpinsi daerah istimewa Yogyakarta. Pantai. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi DIY dengan Fakultas Pertanian UGM YogyakartaAnonimAnonim., 2002 Aplikasi Unit Percontohan Agribisnis Terpadu di Lahan Pasirpinsi daerah istimewa Yogyakarta. Pantai. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi DIY dengan Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta. 118h.
Apa itu lahan potensial dan pemanfaatannya untuk kehidupan masyarakat? Foto UnsplashPernah mendegar istilah lahan potensial sebelumnya? Lantas, apa itu lahan potensial?Mengutip laman resmi Balai Besar Penelitian Padi Balitbangtan Kementerian Pertanian, lahan potensial adalah lahan yang masalahnya paling sedikit, terutama karena lapisan pirit FeS berada pada kedalaman lebih dari 50 dengan lahan kritis, lahan potensial memiliki produktivitas yang jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, lahan potensial dimanfaatkan dengan baik untuk pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya berbeda dengan lahan kritis yang produktivitasnya tinggi, namun hasil yang diberikan tidak sebanding. Mengutip buku Mega Bank SBMPTN Soshum 2019 yang diterbitkan oleh The King Eduka, berikut adalah perbedaan dari lahan potensial dan kritis, yakniLahan kritis merupakan sebidang lahan yang penggunaan atau pemanfaatannya tidak sesuai dengan potensial merupakan sebidang lahan yang dapat memberikan produk secara optimal per tahun per satuan yang telah disebutkan sebelumnya, lahan kritis memerlukan perhatian lebih dalam penggunaan lahan yang harus sesuai dengan kelas ini tentunya berbeda dengan lahan potensial yang umumnya memang dimanfaatkan untuk sektor pertanian. Lahan potensial sendiri menjadi lebih menonjol bersamaan dengan terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan juga proses Lahan Potensial dan KendalanyaPemanfaatan lahan potensial dan kendalanya. Foto UnsplashMasih mengutip sumber yang sama, berikut adalah pemanfaat lahan potensial beserta dengan kendalanya dari segala sektor daerah, seperti pantai, dataran rendah, hingga daerah informasi selanjutnya, simak penjelasannya di bawah ini!Masyarakat di pesisir pantai memanfaatkan lahan potensial di daerah pantai untuk digunakan sebagai usaha tambak usaha udang dan ini juga menjadi salah satu cara agar masyarakat di pesisir pantai bisa mendapatkan mata pencahariannya sehari-hari. Namun, ada beberapa kendala yang perlu satunya adalah air pasang. Biasanya, cara untuk menanggulanginya dengan memasang pintu pengatur. Tujuannya untuk menjaga air pH tetap pada angka keasaman yang dengan daerah pantai, daerah di dataran rendah biasanya dimanfaatkan untuk tanah pertanian yang dimaksud, yakni peternakan, dan lain sebagainya. Namun kendalanya adalah adanya genangan air yang bagaimana cara penanggulangannya? Berikut beberapa cara tanggul penggunaan lahan secara saluran air drainase.Setelah pantai, dataran rendah, selanjutnya adalah pegunungan. Pemanfaatan lahan potensial di daerah pegunungan bisa digunakan untuk usaha daerah pegunungan pun ada beberapa kendala yang sering terjadi, salah satunya adalah erosi. Cara untuk menanggulangi dengan menggunakan teknik pengelolaan lahan dan penanaman itu, di beberapa daerah sudah banyak yang menjadikan daerah pegunungan sebagai objek wisatanya. Hal ini bisa menjadi salah satu mata pencaharian bagi masyarakat di daerah pegunungan.
Lahan potensial merupakan sebidang tanah yang dapat dikelola oleh manusia sehingga memberikan hasil yang tinggi dengan biaya pengelolaan yang minim. Dalam arti sempit, lahan potensial merupakan lahan pertanian yang produktif. Secara geografis, letak lahan potensial bervariasi. Bisa berada di dataran rendah, dataran tinggi, pantai, bahkan daerah hanya untuk pertanian, lahan potensial juga dapat dimanfaatkan untuk perkebunan, pemukiman, hutan, atau kegiatan lainnya yang bernilai ekonomi. Lahan potensial merupakan modal dasar dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidup manusia. Tentu dengan catatan bahwa lahan ini digarap dengan bijaksana, bukan dengan lahan potensial sesuai letak geografisnya, antara lain1. Pemanfaatan lahan di daerah dataran rendahPengertian dataran rendah merupakan daerah yang lahan potensialnya cukup mudah dimanfaatkan untuk kegiatan yang bernilai ekonomi. Pemanfaatan lahan potensial di daerah dataran rendah antara lain untukLahan kering atau tegalan, ini bisa untuk ditanami berbagai tanaman kebun seperti sayur mayur, jagung, palawija, bumbu dapur dan irigasi, untuk ditanami padi, gandum, atau tanaman sejenisnya. Tentu sebagai sawah irigasi perlu untuk memikirkan sumber airnya. Salah satu yang mempengaruhi besar kecilnya biaya pengelolaan dan berhasil tidaknya lahan potensial dimanfaatkan adalah tergantung dari sumber air di sekitar sawah irigasi. Namun, perlu diingat bahwa air yang menggenang terlalu lama untuk lahan ini juga tidak akan berdampak positif dalam pemanfaatan lahan. Genangan air dapat menghanyutkan humus-humus tanah dan juga membuat tanaman pada sawah jenis ini menjadi cepat busuk sebelum masa panen ditanami tanaman-tanaman kebun seperti tebu, kelapa sawit, buah-buahan, dan sebagainya. Tentu, memanfaatkan lahan untuk perkebunan, biaya pengelolaannya cukup besar dibanding pengelolaan jenis lainnya. Lahannya pun cukup besar untuk dapat digunakan sebagai perkebunan. Namun, hasilnya pun bernilai ekonomi cukup dataran rendah merupakan lahan potensial paling mudah dalam penggarapan dan pemanfaatannya dengan biaya yang cukup minim. Peternakan bisa menjadi salah satu pilihan untuk menggarap lahan potensial di dataran rendah. Unggas, kambing, sapi, kerbau, merupakan beberapa pilihan hewan yang mudah untuk dipelihara guna pemanfaatan lahan Pemanfaatan lahan di daerah pegununganPemanfaatan lahan pada dataran tinggi di Indonesia atau pegunungan memang gampang-gampang sulit. Namun, beberapa hal yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan lahan di daerah pegunungan antara lainPerkebunan, perlu untuk memilih tanaman yang cocok ditanam di daerah dingin untuk dapat memaksimalkan lahan potensial yang ada. Kina, teh, kopi, dan mayoritas jenis sayuran cocok untuk ditanam di daerah yang memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi. Tanaman hortikultura dapat menjadi solusi cukup baik dalam pemanfaatan lahan ini tentu perlu mengingat untuk menyesuaikan hewan yang akan diternak sesuai dengan iklim lindung, selain guna menjaga sumber air, hutan lindung juga dapat berfungsi sebagai hutan wisata. 3. Pemanfaatan lahan di daerah pantaiIndonesia memiliki garis pantai yang paling panjang diantara negara lainnya. Penting untuk mengetahui pemanfaatan lahan di daerah pantai untuk dapat memanfaatkan lahan-lahan potensialnya. Pemanfaatan lahan di daerah pantai antara lain dapat digunakan untukIndustri garamPada industri garam dibutuhkan panas matahari yang cukup karena industri garam tentu sangat membutuhkan panas matahari untuk proses pengristalan air laut. Intensitas hujan yang cukup tinggi di negara kita menjadi salah satu kendala pemanfaatan lahan melalui industri garam membutuhkan sarana-prasarana yang menunjang. Apalagi jika ini tak hanya dimanfaatkan sebagai pelabuhan kapal nelayan setempat, namun juga pelabuhan antar daerah bahkan nasional. Sarana dan prasarana penunjang baik di pelabuhan sendiri atau sekitar pelabuhan juga harus persawahan pasang surutSawah jenis ini tergantung dari pasang surut air laut. Namun, terkadang laut pasang surut luput dari prediksi kita. Nah, kita dapat membuat pintu pengatur keluar masuknya air laut guna lebih mengoptimalkan hasil dari pemanfaatan lahan jenis udang dan bandengLagi-lagi, pasang surut air laut menjadi kendala besar dalam pemanfaatan lahan. Apabila hal ini tidak mendapat perhatian cukup, tentu kerugian secara ekonomis tak bisa terelakkan. Pintu pengatur keluar masuknya air laut juga dapat dimanfaatkan untuk pemanfaatan lahan lewat tambak udang ini untuk menjaga kadar keasaman pH air satu kendala dalam pemanfaatan lahan potensial area pantai dengan pariwisata yakni terkait dengan transportasi. Kemudahan transportasi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik dalam maupun luar Lahan PotensialTak cukup hanya mengetahui pemanfaatan lahan potensial. Lahan potensial juga perlu untuk dilestarikan, bukan? Berikut beberapa cara pelestarian lahan potensial, antara laina. Terasering sengkedan untuk tanah-tanah Penggiliran menanam dengan jenis tanaman yang berbeda crop rotation. Ini berguna untuk mempertahankan kontur tanah dan menjaga agar tanah tetap subur serta tidak Penanaman dengan sistem kontur contour farmingd. Pemupukan dengan meminimalisir jenis pupuk kimia. Karena bahan kimia jika digunakan dalam jangka waktu tertentu justru dapat merusak Sistem irigasi yang baikf. Melakukan pengolahan tanah untuk menjaga kesuburan tanah yang digarapg. Usaha mengurangi erosi tanah dengan cara mekanis dan cara vegetatif
– Pantai merupakan daerah yang menjadi batas antara daratan dan air laut. Menurut Sandy dalam Pantai dan Wilayah Pesisir 1996 pantai adalah bagian muka bumi dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi. Pantai merupakan salah satu landskap geografis bumi yang memiliki banyak sumber daya. Berikut contoh kunci jawaban tema 3 kelas 4 mengenai sumber daya alam di pantai dan manfaatnya bagi manusia Hutan bakau Dilansir dari Food and Agriculture Organization of the United Nations, sekitar 24 juta hutan mangrove terdapat di sepanjang wilayah pesisir negara-negara subtropis dan tropis di dunia. Hutan bakau terdiri dari pohon bakau atau mangrove yang berfungsi mencegah intrusi air laut dan mencegah terjadinya pengikisan daratan. Hutan bakau juga merupakan rumah bagi berbagai krustasea sepert kepiring, udang, teritip, dan juga berbagai spesies kerang dan ikan. Selain krustasea, hutan bakau juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung dan monyet. Baca juga Lokasi Pantai di Indonesia dan Ciri-Cirinya Garam laut Air laut asin karena mengandung garam. Dilansir dari Natural History Museum, natrium klorida merupakan konstituen utama garam yang membentuk lebih dari 90 persen dari semua ion yang ditemukan di air terdiri dari 70 persen air laut, artinya air laut menyediakan sumber daya garam yang sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan manusia. Rumput laut dan padang lamun Pantai yang luas, terutama perairan dangkal menyediakan rumput laut dan juga lamun dalam jumlah yang sangat banyak. Walaupun merupakan tumbuhan yang berbeda, keduanya menyediakan tempat berlindung bagi beberpa hewan laut dan sumber makanan bagi hewan-hewan lainnya. Rumput laut dan padang lamun biasanya terbentuk di antara hutan bakau dan juga terumbu karang. Mereka menyediakan nutrisi dalam jumlah besar, tempat perlindungan bagi telur ikan, dan juga mengikat sedimen untuk mengurangi polutan air laut. Selain fungsi tersebut, rumput laut juga dijadikan sebagai bahan pangan dengan berbagai manfaat. Pohon kelapa Salah satu sumber daya alam yang berlimpah di pantai adalah pohon kelapa. Dilansir dari Encyclopedia Britannica, pohon kelapa dengan nama latin Cocos nucifera adalah anggota keluarga palem Arecaceae dan juga satu-satunya anggota marga Cocos. Pohon kelapa di pantai dimanfatkan daging buahnya untuk dimakan, airnya untuk diminum, kayunya untuk dijadikan bahan furnitur, dan sabut, daun, serta batoknya untuk kerajinan. Baca juga Kondisi Geografis Daerah Pantai, Daratan, dan Pegunungan Ikan Ikan merupakan sumber daya alam pantai yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Dilansir dari World Atlas, para ilmuan memperkirakan jumlah ikan yang berada di lautan adalah 3,5 miliyar ekor. Dan pantai merupakan penyambung antara lautan juga daratan, di mana manusia bisa mendapatkan ikan. Selain ikan liar, pantai juga memungkinkan manusia untuk melakukan budidaya ikan air asin seperti ikan kerapu, ikan kakap, ikan makare, dan juga ikan kembung. Selain ikan, pantai juga menyediakan budidaya kerang mutiara, kerang, lobster, kepiting, dan juga udang. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Salah satu permasalahan lahan yang ada di Papua Barat adalah lahan pantai berpasir yang hingga kini pemanfaatannya terutama di kampung werur masih tergolong terbatas. Lahan pertanian yang terbatas dan pengetahuan masyarakat tentang cara pemanfaatan lahan atau penggunaan media tanam sebagai pengganti lahan yang minim serta teknik budidaya tanaman yang kurang dipahami menjadi kendala bagi masyarakat di Kampung Werur khususnya dalam pemanfaatan dan pengolahan pasir sebagai media tanam. Dengan adanya potensi wilayah Papua Barat, khususnya kampung Werur untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian, maka secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan keterampilan termasuk pola berfikir masyarakat Kampung Werur didalam memanfaatkan potensi daerahnya sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai sentra pendidikan dan penghasil budidaya tanaman pada lahan pasir di kabupaten Tambraw untuk memenuhi kebutuhan masayarakat. Selain itu, kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian masyarakat kampung Werur khususnya dan Kabupaten Tambaruw pada umumnya. Adapun metode penerapan ini dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Werur sebagai pilot proyek akan dilatih cara pemanfaatan lahan pasir pantai, pengolahan lahan pasir, penyiapan bibit, penananam, penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta teknik perawatan tanaman dan pemanenan. Dari hasil pelaksanaan kegiatan ini, hampir semua proses kegiatan berjalan dengan baik. Dimana pada saat proses penyemaian benih tanaman yang ditanam tumbuh dengan baik sehingga pada saat memasuki proses penanaman tetap berjalan dengan lancar. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Abdimas Papua Journal of Community Service 45 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 Pemanfaatan Pasir Pantai Sebagai Media Tanaman Holtikultura Di Kampung Werur Kabupaten Tambrauw Zulkarnain Sangadji1, Febrianti Rosalina2, Ihsan Febriadi3 1,2,3Universitas Muhammadiyah Sorong, Sorong, Indonesia Email zulkarnainums1 Submitted 07/06/2019 Revised 29/06/2019 Published 30/07/2019 Abstrak Salah satu permasalahan lahan yang ada di Papua Barat adalah lahan pantai berpasir yang hingga kini pemanfaatannya terutama di kampung werur masih tergolong terbatas. Lahan pertanian yang terbatas dan pengetahuan masyarakat tentang cara pemanfaatan lahan atau penggunaan media tanam sebagai pengganti lahan yang minim serta teknik budidaya tanaman yang kurang dipahami menjadi kendala bagi masyarakat di Kampung Werur khususnya dalam pemanfaatan dan pengolahan pasir sebagai media tanam. Dengan adanya potensi wilayah Papua Barat, khususnya kampung Werur untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian, maka secara umum tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan keterampilan termasuk pola berfikir masyarakat Kampung Werur didalam memanfaatkan potensi daerahnya sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai sentra pendidikan dan penghasil budidaya tanaman pada lahan pasir di kabupaten Tambraw untuk memenuhi kebutuhan masayarakat. Selain itu, kegiatan ini secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian masyarakat kampung Werur khususnya dan Kabupaten Tambaruw pada umumnya. Adapun metode penerapan ini dilaksanakan oleh masyarakat Kampung Werur sebagai pilot proyek akan dilatih cara pemanfaatan lahan pasir pantai, pengolahan lahan pasir, penyiapan bibit, penananam, penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta teknik perawatan tanaman dan pemanenan. Dari hasil pelaksanaan kegiatan ini, hampir semua proses kegiatan berjalan dengan baik. Dimana pada saat proses penyemaian benih tanaman yang ditanam tumbuh dengan baik sehingga pada saat memasuki proses penanaman tetap berjalan dengan lancar. Kata Kunci kesuburan; lahan pasir; media tanam; pemupukan Pendahuluan Salah satu permasalahan lahan yang ada di Indonesia adalah lahan pantai berpasir karena mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan begitu banyak pulau-pulau kecil yang memiliki wilayah pantai beserta pasir putihnya yang luas dan panjang. Seperti yang diketahui bahwa lahan pasir pantai merupakan lahan marginal yang kering, tandus, miskin akan unsur haranya, dan mustahil untuk bias dijadikan sebagai lahan pertanian yang produktif. Selama ini pasir pantai yang terhampar luas dibiarkan begitu saja dan Abdimas Papua Journal of Community Service 46 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 jarang atau masih kurang untuk dimanfaatkan sepenuhnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah Papua Barat. Kampung Werur yang secara administratif termasuk dalam Kabupaten Tambrauw merupakan salah satu kepulauan di Wilayah Propinsi Papua barat yang mana 80 % merupakan penduduk asli Papua dan selebihnya 20 % merupakan warga pendatang. Jarak Kampung Werur ke Kabupaten Tambrauw sekitar 44 km, dimana jumlah penduduk berdasarkan BPS 2014 mencapai kurang lebih 313 Jiwa yang terdiri dari 167 penduduk laki-laki dan 146 penduduk perempuan. Sumber mata pencaharian masyarakat Werur bervariasi dan tidak tetap pada suatu bidang usaha tertentu. Mayoritas masyarakat di Kampung Werur berkerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hasil pendapatan sebagai nelayan tidak dapat menopang biaya hidup karena hasil tangkapan ikan yang diperoleh bergantung kepada kondisi/cuaca di laut. Sumberdaya manusia yang relatif minim berdampak pada pola hidup yang mana hanya bergantung pada satu mata pencarian sebagai nelayan. Lahan pertanian yang terbatas dan pengetahuan masyarakat Kampung Werur tentang cara pemanfaatan lahan atau penggunaan media tanam sebagai pengganti lahan yang minim serta teknik budidaya tanaman yang kurang dipahami membuat masyarakat enggan untuk berkecimpung dibidang pertanian khususnya budidaya tanaman pangan maupun hortikultura. hasil survey lokasi dan wawancara tim pengusul. Menurut Badan Litbang Pertanian 2012, pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat karena dijadikan sebagai penunjang ketersediaan pangan bagi rakyat Indonesia. Ketahanan produksi pertanian akan menjadi landasan terpenting untuk pertumbuhan serta perkembangan ekonomi dimasa depan. Karena keterbatasan ruang bercocoktanam dilokasi tempat tinggal masyarakat Kampung Werur, maka menyebabkan kebutuhan pangannya dipasok dari luar daerah. Produktivitas lahan yang belum optimal akibat masih rendahnya pengetahuan dan Abdimas Papua Journal of Community Service 47 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 keterampilan teknologi budidaya tanaman yang efisien adalah kendala yang dihadapi masyarakat dalam bertani. Lahan pasir pantai tidak bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat di sekitar pantai untuk kegiatan pertanian, hal ini disebabkan karena selama ini lahan pasir pantai dinilai tidak layak sebagai media tanam. Selain itu, lahan pasir juga memiliki keterbatasan dan pengelolaannya lebih sulit dibandingkan lahan lainnya seperti tegalan maupun lahan sawah. Tanah yang berada di pesisir pantai mempunyai tekstur yang kasar, lepas-lepas dan terbuka sehingga sangat peka terhadap erosi angin dan menyebabkan pengendapan berupa material pasir. Butiran material pasir yang terangkut oleh proses erosi pasir tersebut menyebabkan kerusakan tanaman budidaya Gunadi, 2002. Berdasarkan hal tersebut, media pasir lebih membutuhkan banyak pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Menurut Suparso, dkk 2016, tanah pasir pantai memiliki perkolasi yang sangat tinggi yaitu sekitar 209 mm hari-1 dan daya pegang air yang sangat rendah sehingga petani harus menyiram tanaman sangat intensif sekitar 3 kali dalam sehari. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal. Hal ini tentu saja sangat membatasi kemampuan seorang petani dalam mengelola lahan yang lebih luas. Kampung Werur dengan kondisi pasir pantai yang menghampar luas dibiarkan begitu saja tanpa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan mayarakat, padahal lahan pasir yang begitu luas ini dapat digunakan untuk pengembangan teknologi budidaya tanaman seperti; tanaman pangan, tanaman hortikultura maupun tanaman tahunan. Penyebab rendahnya pengatahuan dan informasi tentang pemanfaatan lahan pasir dan sifat apatis masyarakat terhadap teknologi budidaya tanaman pertanian. Dari uraian permasalahan diatas secara umum tampak bahwa akar permasalahan yang dihadapi adalah masyarakat tersebut tidak mampu menemukan suatu metode alternatif untuk memanfaatkan lahan pasir sebagai lahan alternatif dan tanaman yang sesuai dengan kondisi Kampung Werur, Abdimas Papua Journal of Community Service 48 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 Sehingga ditawarkan sebuah metode alternatif yang dianggap mampu menyelesaikan masalah di Kampung Werur Distrik Bikar Kabupaten Tambaruw yaitu Pemanfaatan pasir pantai sebagai lahan pengambagan tanaman pangan, tanaman hortukultura, dan tanaman tahunan. Budidaya tanaman disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan utama masyarakat kampung Werur. Metode Penelitian Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan di Kampung Werur, Distik Bikar, Kabupaten Tambrauw. Metode pendekatan dalam penerapan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan partisipatif aktif secara berkelanjutan antara tim pengusul PKM dengan mitra PKM. Dimana hampir seluruh masyarakat Kampung Werur dilibatkan dan kemudia dipilih sebagai pilot proyek, dilatih keterampilannya mengenai tata cara pemanfaatan lahan pasir pantai, pengolahan lahan pasir, penyiapan bibit, penananam, penyiraman, pemupukan, pengedalian hama dan penyakit serta teknik perawatan tanaman dan pemanenan. Metode Pendekatan yang digunakan dalam kegiata PKM secara lengkap diuraikan sebagai berikut a Tahap pertama, yaitu tahap sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat Sosialisasi dan pelatihan diberikan kepada masyarakat yang telah dipilih dari hasil kesepakatan dengan masyarakat Kampung Werur dan aparat desa. Pelatihan berlangsung selama 1 hari bertempat dibalai desa. Dalam proses pelatihan tersebut juga akan dibentuk kelompok-kelompo kecil yang terdiri dari 4 kelompok, gunanya untuk lebih memudahkan pengontrolan dan pembagian alat dan sarana serta benih yang akan digunakan dalam program ini. Setelah pelatihan selesai maka mereka langsung diberikan perlengkapan yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman. b Tahap kedua, yaitu tahap persiapan lahan dan penyemaian Penyemaian dilakukan oleh masyarakat secara perkelompok, mereka diberikan bibit, diberikan pupuk kandang dan polybag sebagai sarana pembibitan Abdimas Papua Journal of Community Service 49 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 sedangkan lokasi dan pengerjaan mereka lakukan sendiri secara perkelompok dan diawasi dan dipantau oleh tim pengusul dan ketua kelompok yang ditunjuk. Pada saat prroses penyemaian berlangsung juga oleh masyarakat sudah melakukan persiapan lokasi. c Tahap ketiga, yaitu tahap penanaman dan perawatan tanaman. Setelah benih sudah tumbuh maka dilakukanlah penanaman pada polybag-polybag yang telah disediakan. Perawatan tanaman setelah ditanam melibatkan secara langsung masyarakat dengan memberikan arahan langsung dilapangan tentang teknik pengedalian hama dan penyakit pada tanaman. Hasil dan Pembahasan Adapun hasil yang dicapai dalam kegiatan Program Kemitraan Masyarakat PKM di Kabupaten Tambrauw adalah sebagai berikut 1. Tahap Sosialisasi Sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 20 April 2019 dibalai kelompok tani Kampung Werur Distrik Bikar Kabupaten Tambrauw, yang dihadiri oleh Kepala Kampung Werur, Ketua Kelompok Tani Kampung Werur dan Masyarakat Kampung Werur yang dalam hal ini sebagai anggota kelompok tani Kampung Werur. Sosialisasi yang dilakukan berupa pemberian materi dasar atau pengenalan terkait pemanfaatan tanah berpasir, teknik budidaya tanaman hortikultura menggunakan polibag serta cara aplikasi pupuk POC Nasa dan Super Nasa terdapat pada Gambar 1. . Abdimas Papua Journal of Community Service 50 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 Gambar 1 Sosialisasi kepada Masyarakat Kampung Werur 2. Tahap Penyiapan Lahan dan Persemaian. Lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman hortikultura merupakan lahan masyarakat yang terletak pada Balai Kelompok Tani Kampung Werur dengan luas 12 m². Sebelum pemindahan bibit ke lahan, terlebih dahulu lahan di bersihkan dari gulma dengan melibatkan masyarakat setempat. Kondisi areal penanaman dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2 Areal Penanaman Untuk mencegah benih dari gangguan binatang, terik matahari, dan hujan, maka dibuat persemaian dengan ukuran 2 m², dengan tinggi ± 1,5 m dari permukaan tanah. Kemudian polibag ukuran 10 x 15 cm yang disusun di atas papan sebanyak 60 buah untuk setiap jenis tanaman. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3 Proses Pembuatan Persemaian Abdimas Papua Journal of Community Service 51 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 Benih yang digunakan berupa benih cabe rawit, tomat, terong, ketimun, kacang panjang, dan semangka. Semua bibit ini diperoleh dari toko pertanian yang mempunyai daya tumbuh diatas 85 % sesuai dengan label yang tertera pada kemasan. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan benih yang berkualitas. Sebelum pembibitan terlebih dahulu dilakukan proses perendaman terlebih dahulu untuk memisahkan antara benih yang masih hidup dan benih yang mati. Pembibitan menggunakan polibag dengan diameter 10 x 15 cm. Setiap jenis benih yang dibibitkan sebanyak 60 per jenis tanaman. Selanjutanya proses penyiraman dilakukan setiap hari yang dipercayakan kepada anggota dan ketua lapangan yang ditugaskan untuk memelihara tanaman selama proses pembibitan sampai saat panen nantinya. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini. Gambar 4 Proses Perendaman dan Pemilihan Benih Menurut Adnyana 2005, teknologi pengelolaan suatu lahan pesisir atau pasang surut dapat diaktualisasikan melalui pemupukan berimbang serta pengolahan tanah dan air. Sehingga pada saat pelaksanaan kegiatan, sebagai pengganti pupuk kandang maupun pupuk anorganik digunakan Pupuk Oranik Cair POC Nasa yang mempunyai kandungan unsur hara makro yang lengkap serta unsur hara mikro yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tanaman selama proses perkembahan. Pemelihan POC Nasa ini dianggap lebih efisien dan praktis untuk digunakan oleh masyarakat nantinya. Selain itu, Atmojo 2003, menjelaskan bahwa pemberian bahan organik mampu menciptakan kondisi yang sesuai untuk tanaman dengan memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah, aerasi lebih baik sehingga mempermudah penetrasi akar, memperbaiki kapasitas Abdimas Papua Journal of Community Service 52 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 menahan air, meningkatkan pH, KTK dan serapan hara. Proses pemupukan dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 a Proses Pemberian Pupuk Gambar 5 b Proses Memasukkan Benih ke Polybag 3. Tahapan Penanaman dan Perawatan Tanaman Pengisian pasir pantai ke polibag yang berdiameter 40 x 50 cm yang dibantu oleh masyarakat. Sebelum dilakukan pemindahan bibit ke polibag terlebih dahulu di lakukan pemupukan menggunakan POC Super Nasa sebagai pasokan hara karena tanah pasir merupakan tanah yang rendah unsur haranya dan kadar garam yang tinggi. Hal ini dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6 Proses Pengisian Pasir Pantai ke Polybag Abdimas Papua Journal of Community Service 53 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 Setelah bibit berumur 2 minggu maka dilakukan pemindahan ke polibag berisi pasir pantai yang sudah di siapkan di lahan. Jarak antara polibag 40 cm, hal ini di sesuaikan dengan luasan lahan yang ada pada lokasi penanaman. Proses penaman dialukan pada sore hari bersama degan anggota dan ketua lapangan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 7. Gambar 7 Proses Pemindahan Tanaman ke Media Pasir Pada tahap pemeliharaan, masyarakat di Kampung Werur diberi penjelasan terkait cara merawat tanaman, proses penyiraman, pembersihan gulma dan memberi pengetahuan terkait hama dan penyakit pada tanaman hingga tanaman siap untuk dipanen. SIMPULAN DAN IMPLIKASI Berdasarkan hasil kegiatan program kemitraan masyarakat PKM yang telah dilaksanakan di Distrik Bikar Kampung Werur, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut 1. Pelaksanaan program kemitraan masyarakat PKM Distrik Bikar, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat mendapatkan sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Distrik, Pemerintah Kampung dan Masyarakat. Dimana pada kondisi sebelumnya banyak masyarakat didaerah tersebut banyak yang pesimis mengenai pemanfaat pasir sebagai media tanam. Abdimas Papua Journal of Community Service 54 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 2. Metode pendekatan dalam penerapan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan partisipatif aktif secara berkelanjutan antara tim pengusul PKM dengan mitra PKM 3. Pelaksanaan kegiatan PKM dari awal hingga proses penyemaian dan pemanenan menunjukkan hasil pertumbuhan yang sangat baik. Ucapan Terima kasih Terima kasih penulis sampaikan kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristek Dikti yang telah memberikan dana hibah pengabdian pada tahun anggaran 2019. Selanjutnya, terima kasih kepada ketua dan staff LPPM Universitas Muhammadiyah Sorong yang telah memfasilitasi kegiatan pengabdian ini mulai penyusuan proposal hingga laporan penelitian. Daftar Pustaka Adnyana, MO., Subiksa, IGM., Swastika, DKS., Pane, H. 2005. Pengembangan Tanaman Pangan di Lahan Marginal Lahan Rawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Atmojo, SW. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaannya. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Badan Litbang Pertanian. 2012. Dinamika Produksi dan Harga Beras Indonesia. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. BPS. 2014. Distrik Bikar dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Sorong Abdimas Papua Journal of Community Service 55 Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55 Gunadi, S. 2002. Teknologi Pemanfaatan Lahan Marginal Kawasan Pesisir. Jurnal Teknologi Lingkungan 33 232-236. Suparso, Sudarmaji A, dan Ramadhani Y. 2016. Penerapan Teknologi Otomatisasi Pemanfaatan Air dalam Peningkatan Kapasitas Agribisnis Pembibitan Tanaman Sayuran di Wilayah Pesisir Adipala, Cilacap, Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Pedesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VI, 24-25 November 2016, Purwokerto. Zulkarnain SangadjiMuhammad Taufik Muhammad Syahrul KaharIhsan FebriadiKegiatan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap teknik budidaya hortikultura. Melalui budidaya tanaman hortikultura merupakan langkah awal untuk merangsang tumbuhnya semangat partisipasi masyarakat tentang pentingnya peningkatan budidaya tanaman hortikultura. Pentingnya melaksanakan budidaya tanaman karena masyarakat pada dasarnya belum mengetahui cara-cara budidaya tanaman secara baik dan benar, belum menerapkan pembenihan tanaman secara baik dan benar, belum mengetahui cara pengapuran dan pemupukan secara tepat, belum mengetahui pembuatan pupuk organik cair, dan lain sebagainya. Pengabdian kepada masyarakat ini berlokasi di distrik Sausapor. Adapun sasaran pada program ini sebanyak 10 orang masyarakat sausapor yang dilaksanakan di bulan oktober 2022. Distrik Sausapor memiliki luas wilayah 10,28 km2 dengan jumlah penduduk 2856 jiwa. Kondisi geografis dan topografis wilayah dicirikan berdasarkan kawasan hutan yang sangat luas dengan proporsi hutan konservasi serta hutan lindung mencapai 80 %. Metode pelaksanaan yang akan digunakan diantaranya sosialisasi, pemberian metode diskusi, ceramah, penyuluhan, bimbingan teknis dan pendampingan secara terjadwal. Adapun tahapan kegiatan meliputi sosialisasi kegiatan, pengembangan dan pendampingan digitalisasi pertanian meliputi pengolahan lahan, pembenihan, penyemaian, penanaman dan pemupukan. Hasil pelaksanaan kegiatan menjelaskan bahwa tingkat pengetahuan dan keterampilan mitra terhadap teknik budidaya tanaman mengalami peningkatan sebesar 74,85 % dari 34,29 % 64-75 %, hasil ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan keterampilan mitra berada pada kategori baik 61-74 %Community service activities aim to determine the level of public understanding of horticultural cultivation techniques. The cultivation of horticultural crops, it is the first step to stimulating the growth of the spirit of community participation in the importance of increasing the cultivation of horticultural crops. The importance of carrying out plant cultivation is because the community does not know the methods of cultivating plants properly and correctly, has not applied plant hatchery properly and correctly, does not know how to liming and fertilize properly, does not know the manufacture of liquid organic fertilizers, and so on. This community service is located in the Sausapor district. The partners in this program are as many as 10 sausapor communities, and it will be implemented in October 2022. Sausapor District has an area of km2 with a population of 2856. The geographical and topographical conditions of the region are characterized based on a very large forest area, with the proportion of conservation forests and protected forests reaching 80%. The implementation methods that will be used include socialization, providing discussion methods, lectures, counselling, technical guidance and scheduled assistance. The stages of activity include Socialization of Activities, development and assistance in digitizing agriculture, including Land processing, Hatchery, Seeding, Planting and Fertilization. The results of the implementation of the activity explained that the level of knowledge and skills of partners towards plant cultivation techniques increased by from 64-75%; these results showed that the level of understanding and skills of partners was in a good category 61-74%.Teknologi Pemanfaatan Lahan Marginal Kawasan PesisirS GunadiGunadi, S. 2002. Teknologi Pemanfaatan Lahan Marginal Kawasan Pesisir. Jurnal Teknologi Lingkungan 33 Teknologi Otomatisasi Pemanfaatan Air dalam Peningkatan Kapasitas Agribisnis Pembibitan Tanaman Sayuran di Wilayah Pesisir AdipalaSudarmaji A SuparsoY Dan RamadhaniSuparso, Sudarmaji A, dan Ramadhani Y. 2016. Penerapan Teknologi Otomatisasi Pemanfaatan Air dalam Peningkatan Kapasitas Agribisnis Pembibitan Tanaman Sayuran di Wilayah Pesisir Adipala, Cilacap, Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Pedesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan VI, 24-25 November 2016, Tanaman Pangan di Lahan Marginal Lahan Rawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen PertanianM O AdnyanaIgm SubiksaDks SwastikaH PaneAdnyana, MO., Subiksa, IGM., Swastika, DKS., Pane, H. 2005. Pengembangan Tanaman Pangan di Lahan Marginal Lahan Rawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya PengelolaannyaS W AtmojoAtmojo, SW. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaannya. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Bikar dalam AngkaBpsBPS. 2014. Distrik Bikar dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Sorong Volume 1 Nomor 2 Halaman 45-55
jelaskan cara memanfaatkan lahan di daerah pantai